Selasa, 28 Februari 2012

Cinta yang Takkan Terbalas

Jam weker yang berbunyi di samping tempat tidurnyua membangunkan ia dari tidur nyenyak. Segera dengan malas ia membuka matanya lalu berjalan sambil terhuyung-huyung menuju ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya. Ia menyalakan lampu kamar mandi, berjalan ke depan wastafel, menyalakan keran, lalu mulai membasuh mukanya. “Wow, ternyata sampai hari ini aku masih hidup. Sungguh sesuatu yang mengherankan,” pikirnya sambil mengusap-usap wajahnya dan mengambil sikat dan pasta gigi untuk mulai menyikat gigi. Selesai menyikat gigi ia langsung mengganti pakaiannya menggunakan pakaian olahraga untuk ia jogging mengitari kompleks rumahnya. Tak lupa ia membawa iPod kecil kesayangannya yang selalu menemaninya ketika berlari-lari pagi, memainkan lagu-lagu favoritnya yang bernuansa melow. Teruslah ia berlari pagi selama kurang lebih 45 menit. Itulah rutinitas yang dilakukan Zina setiap paginya. Selalu sama setiap hari, ia lakukan tanpa bosan.
Sepulangnya ia berlari pagi, wanita berumur 28 tahun itu lalu mandi dan berdandan rapi kemudian mengenakan blouse biru dan rok hitam sepanjang lutut untuk pergi bekerja. Ia hanya sarapan minuman sereal instan karena tidak ada yang memasak pada pagi hari, dan pembantunya baru datang pada siang hari. Ia-pun bergegas menaiki mobilnya meluncur ke kantornya dengan tergesa-gesa karena takut akan terjebak macet di jalan.
* * *
Selamat pagi Zina.”
Pagi Doni,” sapanya kembali kepada teman kantornya itu dengan senyum manisnya yang langsung lenyap ketika wajahnya sudah tidak dapat dilihat oleh Doni. Langsung ia masuk ke lift untuk menuju ke ruangannya yang berada di lantai 6.
Hidup di kota metropolitan seorang diri, terlebih dengan pekerjaan yang sebenarnya tidak diinginkan sangatlah berat untuk Zina. Saking tidak nyamannya, ia bahkan jarang berinteraksi dengan teman-teman kerjanya. Ia lebih memilih untuk menyendiri dan mengerjakan seluruh tugasnya dengan sebaik mungkin dan secepat mungkin supaya ia dapat menulis, sesuatu yang sangat penting. Seperti sekarang ini. Ia sudah mulai melakukan apa yang ia ingin lakukan sejak lama itu. Di atas selembar kertas, ia menuliskan kata demi kata dengan sungguh-sungguh. Tampak setitik kesedihan di matanya, dan ada terselip sedikit keraguan di dalam lubuk hatinya.
Ketika jam makan siang tiba, ia berpikir untuk menjalankan rencananya. Di saat semua orang pergi bergegas, tidak sabar untuk mengisi perut yang lapar dan mengisi ulang energi mereka yang sudah terkuras, ia menyendiri di dalam ruangannya. Ia membuka jendela ruangannya sambil memandangi bangunan-bangunan tinggi di sekitar kantornya itu dan tidak sengaja melihat ke bawah. Terasa seperti ada kupu-kupu di dalam perutnya, sedikit mual. Lalu ia mulai menutup mata, merentangkan kedua tangannya, lalu mendoong dirinya sendiri keluar jendela dan merasakan udara yang bergerak menghantam tubuhnya. Tak lama kemudian, orang-orang mendengar ada sesuatu yang jatuh dari ketinggian, dan mereka mulai panik. Beberapa wanita berteriak karena ternyata yang jatuh adalah manusia, dan dia adalah Zina. Dengan sigap para satpam gedung itu mulai mengamankan tempat jatuhnya Zina, termasuk Doni yang sangat sedih karena kejadian seperti itu terjadi pada Zina yang ia kenal ramah.
* * *
Di meja kerja Zina, Doni menemukan secarik kertas, yang ternyata adalah sebuah surat yang ditulis oleh Zina.
Untuk siapapun yang menemukan surat ini,
Maaf karena saya sudah membuat semua orang kebingungan dengan kejadian yang terjadi dengan saya. Saya hanya mau menyampaikan, kalau saya melakukan semua ini karena saya merasa sudah tidak ada gunanya lagi saya hidup. Saya hanya memenuh-menuhi dunia ini. Saya berpikir, mungkin lebih baik orang lain yang ada di tempat saya. Sahabat saya tidak punya, apalagi seorang pria yang mencintai saya dengan sepenuh hatinya. Tidak ada seorangpun yang menyayangi dan mencintai saya. Jadi untuk apa saya ada di dunia ini?
Terima kasih karena kalian sudah mau kenal dengan saya. Maaf untuk semua kesalahan yang pernah saya lakukan.
Tertanda,
Azina Intan Kurnia”
Setelah membaca surat itu, hati Doni hancur berkeping-keping. Tidak pernah terpikir olehnya kalau Zina akan melakukan hal seperti itu, dan menyayangkan pemikiran Zina yang dangkal. Selama ini Doni memiliki suatu perasaan kepada Zina. Ia mencoba melakukan pendekatan tetapi Zina seperti tidak tertarik sama sekali.
* * *
Para pelayat sudah berdatangan. Kebanyakan adalah teman-teman lama Zina, baik teman SMA maupun SMP. Terlihat oleh Doni yang tampaknya bertanggung jawab untuk persemayaman dan pemakaman Zina seorang wanita yang sebaya dengan Zina terus memandangi jenazahnya. Gita, sahabat lama Zina.
Sudah, jangan terus-menerus dipikirkan. Dia seharusnya sudah tenang di sana,” kata Doni memulai pembicaraan dengan gadis itu.
Iya, terima kasih.”
Kalau boleh tau, kamu siapanya Zina?” tanya Doni penasaran.
Saya teman dekat Zina sewaktu kuliah. Kami dulu selain satu unversitas, juga satu kos. Sudah seperti saudara.”
Oh begitu. Saya mau tanya, apa dulu ada sesuatu yang terjadi dengan Zina, sampai-sampai dia bisa melakukan hal seperti ini?”
Kalau setahu saya, Zina sudah tidak punya orang tua. Ia anak tunggal, dan tidak ada keluarga yang dekat dengan dia. Sewaktu kuliah dulu, ia pernah punya pacar tetapi pacarnya meninggal karena kecelakaan pesawat saat mau pergi ke luar negeri berlibur dengan keluarganya. Sejak saat itu ada yang berubah dengan dia. Ia jadi suka menyendiri walaupun sedang rame-rame sama temen-temen. Dan lama-kelamaan dia tidak mau lagi diajak pergi bermain bersama,” jelas Gita.
Astaga, kasihan dia,” ungkap Doni.
Dan akhirnya ia tahu apa penyebab Zina melakukan hal itu. Ia mau tidak mau memadamkan perasaanya untuk Zina yang kini sudah tiada.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar